Rabu, 18 September 2013

My Super Ozil



Pernah kah kalian berada dalam situasi seolah semua persoalan numpuk di saat yang bersamaan, rasanya kalian ga dikasih waktu untuk bernafas, dipaksa untuk beradaptasi dengan persoalan-persoalan tersebut dalam waktu singkat, ga pake lama, ga pake istirahat? Kalau buat saya yang dulunya guru, mungkin situasinya seperti sedang mengurus sponsor untuk acara besar sekolah ditambah anak-anak sedang formative test matematika, anak di rumah sedang sakit, ada murid yang harus diremedial pulang sekolah, dan lagi hamil muda. Pusiiing !!!

Rasanya itu yang kami lihat pada anak pertama kami, Ozil. Di usianya yang masih sangaaat kecil, yang masih kepingin papa mamanya buat dia seorang, dia harus berbagi papa mama nya dengan anak bayi asing yang tiba-tiba datang entah dari mana. Anak bayi ini kemudian dia kenal dengan sebutan adik. Perkenalan Ozil dengan adik dimulai sejak adik hadir pertama kalinya di rahim mama, terlihat dari dua garis di testpack mama di suatu malam. Saat itu, dia mulai semangat untuk merelakan mimik mama untuk adik. Pengorbanan Ozil dimulai. Buat saya ga ada yang namanya weaning with love. Aktivitas menyusui adalah aktivitas emosional paling kompleks antara ibu dan anak. Romantisnya ga akan tergantikan oleh apa pun, Menyapih adalah pengorbanan. Tidak ada cinta dalam proses menyapih, yang ada adalah kerelaan berkorban si mama dan anak, rasanya beraaaat banget. Ozil pasti merasakan hal yang sama beratnya dengan saya. Sesekali dia masih minta, saya masih kasih, mungkin kangen mimik mama. Sampe si adik berusia dua bulan di rahim mama, akhirnya Ozil secara resmi menyapih dirinya sendiri, hiks. "mimik untuk adik, Ma"

Banyak orang yang berpesan, kenalkan adik kepada si abang mulai dari kandungan. Selama saya hamil, cara ini berhasil, Ozil sayang adiknya, elus-elus perut saya,cium, dsb. Tapi apakah rasa sayangnya bertahan sampai adik lahir? Jeng...jeng ... TIDAK sodara! 

Bayi kecil yang dikenalnya sebagai adik itu, mulai hadir. Ozil liat proses nya, dia berada dalam ruang bersalin, ikut menemani saya di dalam. Malam pertama kehadiran adik, saya yakin dia merasa ada yang aneh. "Adik ini ternyata berisik kalau menangis dan adik sepertinya merebut mama dari ku" mungkin itu yang ada di pikirannya. Si adik menempeeeel terus di dada mama. Entah bagaimana perasaannya saat itu. Mungkin sebel, kesel sama adik, karena adik merebut mamanya. 

Pulang dari Rumah Bersalin, Ozil mendadak bertindak agresif sekali, berteriak-teriak, minta semuanya dituruti. Sementara saya masih terbatas geraknya. Mama dan Papa jad ikut terpancing emosinya.  Sampai akhirnya, jam 8 malam, masih di hari yang sama, Ozil terpeleset di kamar mandi, dan harus dilarikan ke rumah sakit, darah berceceran banyaaak sekali, Lemeeeees nya ga bisa diceritakan. Rasanya ingin lari menyusul Ozil ke RS, menemaninya di RS, namun mama tidak bisa, karena ada adik. Cuma bisa berdoa, semoga Alloh masih mengijinkan mama untukbertemu Ozil kembali. Mencium Ozil, menggendong Ozil sampai mama kecapekan. Sekitar satu jam Ozil kembali dengan tiga jahitan, kata dokter tidak apa2. Alhamdulillah. 

Papa kembali bekerja, jatah cuti telah habis. drama itu dimulai disini. Ozil nangis terus, mau ini mau itu. Sementara mama sudah benar2 ga ngerti mau berbuat apa terhadap Ozil. Semuanya terasa salah. Hffftt. Sampai mama terpikir untuk menitipkan Ozil saja ke Omanya, hiks. Kurang lebih dua bulan Ozil masih sulit dikendalikan. 

Setelah banyak bertanya, diskusi, belajar, pelan2 mama mulai paham apa yang Ozil rasakan. Solusinya justru bukan menjauhkan Ozil dengan adik, itu malah akan memperlebar jurang antar mereka berdua. Mama ga mau mengajarkan Ozil untuk lari dari masalah. Kita harus beradaptasi sama2, berempat, mama papa abang adik. 

Kehadiran adik membuat kami semua belajar, ga hanya papa dan mama, tapi yang paling utama adalah abang Ozil. Melalui adik, Ozil belajar berbagi, merelakan waktunya bermain bersama mama agar adik bisa mimik dengan mama. Merelakan tidur tanpa dipeluk mama, agar mama bisa menimang2 adik sampai terlelap. Is it easy to do?? Saya rasa tidak untuk seorang anak 3 tahun. Jangan lupa, anak juga manusia biasa, mereka bisa merasa. Namun saya bersyukur proses yang bener2 rumit ini pelan2 bisa Ozil jalani. Kalaupun ada saat2 keisengan Ozil terhadap adiknya, wajar sekali rasanya. Saya ga bisa memaksa agar Ozil mendadak bisa dewasa, tidak iseng sama sekali sama adiknya. Biarlah sama2 kami menjalani dan menikmati proses belajar ini. Meski harus benjol, kejedut, kepentok sana sini. 

Tiga tahun sudah Ozil menemani mama. Ozil pasti tahu, mama ga pernah memaksa Ozil untuk jadi ini itu, doa mama agar Ozil kelak jadi anak yang memberikan manfaat. Mama berharap, mama masih diberi umur panjang untuk mengambil rapot sekolah Ozil, menemani Ozil wisuda, sampai kelak melihat Ozil membangun keluarga Ozil sendiri. 

Terima kasih ya Nak, untuk kebesaran hatinya untuk terus belajar beradaptasi dengan situasi ini. Happy birthday my super hero. My Super Ozil :) 

Rabu, 28 September 2011

Selamat Ultah Anakku :)

Hampir saja terlewat, sesi menulis untuk merayakan hari lahir Ozil. 19 september, Ozil ku genap satu tahun. Alih-alih buang uang untuk mengadakan pesta, kami berpikir untuk menyimpan saja dana pesta tersebut ke bentuk investasi untuk masa depannya. Sungguh saya tidak memandang negatif orang yang merayakan hari lahir, namun saya hanya tidak biasa saja merayakannya. Lagipula sayang uang 

Sering kali di waktu senggang selepas mengajar saya terlibat percakapan ringan dengan sesama rekan guru. Banyak ternyata yang ingin memasukkan anaknya ke pesantren, dengan alasan pergaulan saat ini sudah sedemikian parah sehingga rasanya perlu untuk mengurung anak dari dunia luar dengan memasukkannya ke pesantren. Atau juga ada yang beralasan agar kelak anaknya menjadi penghapal Al-Qu’an, agar ia diajak anaknya masuk surga-Nya. Hati saya tergelitik. Oh iya, saya mau Ozil jadi apa ya?

Dokter, insinyur, arsitek, profesor, astronot, presiden. Ah, rasanya kok terlalu muluk menuntut anak untuk menjadi seperti yang kita harapkan. Apakah orang tua pernah memikirkan perasaan anak saat menjalankan apa yang tidak ia hendaki. Bayangkan, misalnya saja nanti saat Ozil sudah besar ia bagus bermain bola. Cita-citanya ia ingin bermain di klub besar di luar negeri. Namun karena ambisi ga jelas saya sebagai mamanya yang ingin Ozil menjadi Dokter Spesialis Syaraf, Ozil terpaksa mengubur keinginannya bermain bola, berkutat dengan buku pelajaran atau diktat kuliah yang tebalnya minta ampun itu. Ih, pusing pasti dia! Saya pun kalau di posisi dia tidak akan senang diperlakukan seperti itu. Akibatnya, potensi anak terkubur, jadi dokter spesialis syaraf pun tidak maksimal. Sayang kan?

Saya pernah punya pengalaman seperti ini. Ayah saya kepingin banget anaknya kuliah di UI, Universitas Indonesia. Saya kejar mati-matian, namun apa yang terjadi. Saya ga dapat satu kursi di UI. Saya nangis sejadi2nya karena merasa mengecewakan papa. Dari SD saya selalu mengupayakan diri untuk selalu berprestasi, bukan karena saya butuh tapi karena itu untuk papa saya. Sampai di titik kegagalan itu, saya merasa lelah menjadi bukan diri saya. Saya sadar, saya ini manusia biasa juga, bisa gagal. Saya mengubah diri saya. Saya coba untuk mengisi ruang kosong di hati saya yang selama ini terasa hampa, terasa tidak puas. Alhamdulilllah saya tidak terlambat mengambil keputusan. Saya puas telah melakukan apa yang menjadi cita-cita saya. Meski Cuma sebentar, tapi saya benar-benar puas pernah berada di dunia jurnalistik. Satu yang menjadi cita-cita selama SMP.

Nah, saya mau Ozil seperti itu nanti. Ia senang akan apa yang ia lakukan. Bahagia mengerjakan aktivitasnya. Meski bukan di bidang ke-agama-an. Tidak salah kan kalau dia tidak jadi penghapal Al-Qur’an? Tidak menjadikan ia buruk kan? Kalau pun dia memilih untuk itu, ya.. itu pilihannya bukan pilihan saya. Saya yakin bila semua orang di dunia ini mengerjakan apa yang dia sukai dan cintai, dunia ini pasti bersih akan keluh kesah, aura yang ditimbulkan pun positif selalu. Pekerjaan pun dilakukan secara maksimal output yang dihasilkan pasti hasil yang terbaik.

Untuk Ozil, mama tidak menuntut mu jadi apa-apa ‘Nak. Cintai dan lakukan apa yang menjadi minat mu. Yang terpenting adalah apa pun profesi yang kamu pilih kelak, jadilah orang yang berguna yang bisa memberi manfaat dari apa yang kamu lakukan. Jangan takut apa kata orang, lakukan apa yang menurut kamu terbaik, Mama pasti dukung Ozil selalu.

Selamat ulang tahun sayang ku. Mama Papa always love you ....

Minggu, 24 Oktober 2010

Aha, ini dia si kontraksi !!

Hari ini sudah sekitar sebulan berselang sejak peristiwa besar itu. Ya, peristiwa yang akhirnya menggelari saya sebagai seorang ibu sejati, yang melahirkan anak dari rahim saya sendiri. Anak ini lahir lewat dari tanggal perkiraan semua dokter. Dokter satu bilang anak ini akan lahir tanggal 11 September sedangkan dokter yang lainnya bilang tanggal 13 September. Namun kedua tanggal itu saya lewati begitu saja tanpa ada tanda-tanda yang nyata bahwa ia siap dilahirkan. Tak terhitung lelahnya saya harus bolak-balik Rumah Bersalin (RB) untuk memeriksakan kandungan saya yang sudah masuk due date.

Hari itu saya ingat, hari Jumat. Sebelumnya dokter berpesan bila sampai Jumat (17/9) saya belum juga melahirkan, akan diberikan obat perangsang kontraksi , biar saya mules2 dan akhirnya merangsang bukaan. Setelah USG dan periksa dalem yang rasanya ga enak banget itu saya diberikan obat kecil warna putih yang dibagi jadi empat bagian. Tiap hari saya harus makan satu sampai seminggu ke depan. Sukur2 sebelum seminggu saya sudah lahiran. Sepulang dari rumah bersalin, saya makan siang dan meminum obat itu. Sambil tetap beraktivitas jalan sore, berdiri-jongkok-berdiri, senam hamil, ngepel jongkok biar si dede cepet keluar. Tapi jangankan kontraksi, mules2 aja enggak, malah saya ngerasa badan saya sehat bugar, hihi.

Keesokan harinya, Sabtu (18/9) saya bangun lebih pagi dari biasa karena abang WO. Saya sempat menyiapkan teh hangat dan sarapan ala kadarnya. Namun di pagi itu ada yang aneh, pinggul saya agak terasa ngilu, tidak seperti biasanya. Saya tidak menganggapnya serius, mungkin hanya kecapean saja, begitu pikir saya. Sakit pinggang ini juga saya utarakan kepada suami saya sebelum jalan, tapi seperti biasa dia santai-santai aja tuh, jadinya saya juga santai. Kecemasan saya karena belum juga melahirkan pun telah berganti perasaan pasrah. Toh, tak ada baiknya bila memaksakan kehendak kita sama Allah. Saat itu yang ada di pikiran saya, “Biarlah rahim ini bekerja sebagaimana mestinya” Saya yakin Allah sudah tetapkan tanggal terbaik bagi si jabang bayi lahir ke dunia.

Jam tujuh pagi, dimulailah rutinitas saya. Jalan pagi dan belanja sayur. Hari itu saya kepingin banget makan kentang balado, jadinya setelah jalan pagi dan belanja saya masak makanan untuk makan siang saya. Saat itu saya ingat saya masih sempat ngulek sambal balado dengan gaya menahan mules di perut. Makin siang, setelah minum obat kontraksi itu rasa pegel di pinggang terutama di bagian belakang makin menjadi2. Sempet terpikir memang, jangan2 hari ini adalah hari melahirkan saya. Karenanya untuk menyimpan energi, saya paksakan diri untuk tidur siang. Tidur siang saya lumayan pules. Saya baru terbangun sekitar jam 4 sore dan itu pun ditambah tidur2an selama satu jam.

Maghrib pun datang, pinggang belakang itu semakin sering datangnya. Bila sebelumnya ia datang 30 menit sekali sekarang menjadi 15 bahkan 8 menit sekali dengan durasi sekitar 45 – 60 detik. Sinetron favorit saya –ketika cinta bertasbih- pun tak mampu mengalihkan rasa sakit itu. Alhasil saya bolak-balik kamar aja. Setiap si ngilu datang, saya rebahan di kasur, jongkok, muter2, pokoknya melakukan apa pun yang bisa mengurangi rasa sakit *even, it didnt work, hehe. Sampai malam pun rasa ngilu tak kunjung hilang. Saya sempat sms-an dengan bidan tempat saya akan melahirkan. Beliau menyarankan untuk memeriksakan diri ke RB, siapa tau udah bukaan, katanya. Namun, saya harus bersabar sambil meringis menunggu suami saya pulang tugas.

Jam 10, jam 11, jam 12, suami tak kunjung pulang, rasa sakit semakin menjadi2. Kontrasksi-kah ini? Jujur saat itu saya gak tau sama sekali bahwa rasa sakit yang saya rasa saat itu adalah kontraksi asli yang selama ini saya tunggu2. Saya bingung sama badan saya sendiri. Mau bertanya, ga tau bertanya sama siapa?

Akhirnya sekitar jam setengah satu pagi, suami saya pulang. Saya langsung cerita tentang rasa sakit yang sudah datang 5 menit sekali itu. Tapi, karena beliau saat itu sedang lelah2nya (wajar karena dia terjaga hampir 22 jam) dia bilang untuk menahan rasa sakit itu sampai besok pagi. “Besok pagi aja ya, sekarang dibawa tidur aja” Lagian kita juga males, kalau sampe kita tereleminasi lagi dari RB, kayak biasanya, hehehe. Tapi boro2 saya bisa tidur setiap mau rebahan di kasur, rasa sakit itu datang, dan alhasil saya cuma bisa muter2 kamar tidur ga bisa tidur.

Ngeliat saya yang “menderita” kayak gitu, suami juga kayaknya ga tega. Keputusan pun diambil. “Ya udah deh, kita periksa, mau disuruh pulang lagi gapapa deh” Saya ganti baju secepat kilat, langsung pergi ke RB naik motor. Saat keluar rumah, saya Cuma pamitan sama adik saya Dian. Saya ga pamitan sama papa, karena takutnya kontraksi biasa. Takut juga bikin panik kalo saya sesumbar sama orang rumah, hehe. Btw, kebayang ga sih kontraksi2 naik motor pagi2 buta???!! *hahaha, hal paling nekat yang pernah kita berdua lakukan-selain pacaran diem2 di kampus*
Dalam hati saya perbanyak zikir aja, kalau memang sekarang waktunya agar dipermudah dan dipercepat.

Setelah melewati dinginnya pagi dan polisi tidur yang jumlahnya banyak itu *yang memperparah rasa sakit, sampailah kita di RB. Rasanya seperti orang mau buang air besar ketemu WC, pengen buru2 masuk, tapi sayang karena udah pagi, pintu RB pun dikunci. Jadilah saya pijit2 bel dulu, mana lamaaaa banget yang keluar untuk bukain pintu. Setelah sekitar 5 menit ada juga yang keluar untuk bukain pintu. Badan saya merinding ga keruan nahan rasa sakit. Dan setelah masuk saya disuruh naik ke kamar bersalin. Ternyata saat itu baru ada yang melahirkan, bayinya gede deh 4 kg, dan salutnya si ibu melahirkan normal!!! Wuih keren.

Saya pun berbaring di kasur, bidan datang. SOP pemeriksaan dalam pun dilakukan. Sarung tangan, gel biar licin dibalurkan dan yak..... tangan bidan pun masuk. Bidan itu ga ngomong berapa pembukaan saya. Dia Cuma bilang, perlengkapannya udah dibawa? Nanti urus admin kamar ya di bawah. Saya dan suami pun liat2an. Inikah hari yang kami nanti2 itu?? Bukaan berapa sus? Tanya saya. Udah bukaan empat. Waaakkzz... bukaan empat! Subhanallah... Permudah ya Allah .. dan drama pun dimulai sejak saat itu ..

Selasa, 14 September 2010

Masih betah aja nih si Boy …

Hari perkiraan lahir yang diprediksi oleh dokter udah lewat. Kemarin tanggal 11-13 seharusnya jadi tanggal untuk si boy keluar bertemu secara live dengan sanak saudara. Tapi… ternyata dia masih betah aja tuh di dalam. Padahal sign of labor udah ada, toh kenyataannya dia ga keluar-keluar. Berikut kronologisnya…
10 September (1st eid fitri)
Setelah shalat ied di Mampang, Al-Khairiyah, saya kumpul di rumah Nyak. Saat itu sudah mulai terasa nyut2an perut saya, mules seperti orang dapet. Pertama masih bisa saya tahan, tapi lama2 saya mulai mojok, perut saya ga bisa ditolerir lagi, mulai keluar keringet dingin dan susah nyengir. Dalam hati saya sih malah seneng, ahaaaa… mungkin ini saat si boy keluar. Selesai kumpul di rumah Nyak, perjalanan masih harus dilanjutkan lagi, saya tahan2 aja sampai pada akhirnya selepas shalat Jumat saya udah ga tahan minta pulang sama abang mau rebahan di kasur pake sarung. Perutnya sakiiit…

11 September (2nd eid fitri)
Hari ke dua ngumpul lagi tapi kali ini kumpul di rumah nenek dari pihak keluarga ayah mertua. Di hari itu, saat mau shalat Subuh, saya sudah mulai keluar flek, semoga hari ini *harap saya waktu itu. Selepas makan siang dan shalat Zuhur, saya liat ada flek lagi di celana saya. Oow.. perutku pun tiba-tiba mengeras. Mama mertua langsung panic dan segera ,menelpon suami saya untuk nganter saya ke dokter segera. Singkat cerita kita pulang lebih cepat, dan segera ke bidan. Di bidan saya langsung diperiksa dalam, uuuuuh ternyata menyakitkan ya kalau periksa dalam. Dua jari suster masuk ke dalam hmmmmmmm rasanya pengen saya tending tuh suster, heheeh. Katanya belum ada pembukaan masih penipisan leher rahim. Ya…. Mesti nunggu lagi donk??

14 September
Sesuai yang disepakati bila belum ada tanda2 mau ngelahirin lagi, saya diminta balik untuk cek kondisi kandungan. Nah, tadi saya baru aja pulang dari sana… Di cek detak jantung bayi, tekanan darah dan berat badan saya, semuanya oke! Dan nampaknya bu bidan santai aja tuh saya belum ngelahirin. Katanya ga papa kok. Tenang aja. Jadinya saya tenang. Meski saya udah kepengeeeeeen banget liat si boy secara live. Tapi ternyata Allah masih minta saya untuk nunggu. Insya Allah saya bisa sabar. Allah pasti kasih waktu terbaik untuk si boy keluar. Hari Jumat minggu ini diminta balik lagi untuk cek.. semoga dalam waktu penantian ada perkembangan yang berarti, amiin.

Sabtu, 04 September 2010

Yaaahhh, kok muter lagi, Nak?

Masuk bulan ke delapan, pemeriksaan sudah 2 minggu sekali. Malam itu saya pergi ke dokter Zahra. Dari rumah ga ada perasaan apa-apa, ga tegang kayak biasanya. Sampai di sana, saat tiba giliran saya, saya dan suami masuk ke dalam ruang periksa. Berat badan ditimbang, normal. Berbaring di kasur periksa, tekanan darah saya saat itu dinyatakan rendah. Dokter nanya apakah saya kecapean? Saya jawab ia kayaknya, Dok. Maklum aja waktu itu saya baru masuk tahun ajaran baru, ngajar dari jam 7 sampai jam 4. Pasti kecapean banget, ditambah dengan kehamilan yang makin membesar. Biasanya tekanan darah saya normal dan baik-baik saja, pokokn ya semuanya oke deh. Entah kenapa saat itu kok malah ga bagus pemeriksaannya.

Setelah tekanan darah, seperti biasa dokter mengoleskan gel untuk pemeriksaan USG di atas perut saya. Lagi-lagi saya kecewa karena pemeriksaan USG pun tak sebagus biasanya.
“Loh, kok miring nih!” kata dokter Zahra sat itu. Saya pun langsung deg-degan takut ga keruan. Kepala si boy ada di samping kanan kakinya satu di kiri yang satu lagi menjulur menuju jalan lahir. Sungsang! Dokter pun dengan nada yang nakut-nakutin bilang kalau sya ga mau merubah posisi ini dengan Knee Chest Position yang diajarin saya terancam melahirkan Caesar. Duh…. Rasanya saya mau nangis saat itu. Semua omongan dokter saya dengerin dengan setengah hati, yang setengah lagi saya sibuk mikirin nasib saya dan si boy nantinya. Pikiran-pikiran buruk pun menghantui pikiran saya. Sepanjang perjalanan pulang saya nangis. Air mata ga henti-hentinya mengalir. Saya ngerasa bersalah ga jaga si boy baik-baik, saya menyesal, menyesal sekali.

Setelah vonis sungsang itu, saya sibuk browsing untuk cari info sebanyak-banyaknya tentang sungsang ini. Ternyata banyak pendapat yang menguatkan dan membuat saya percaya diri, bahwa posisi ini biasa berubah nantinya. Saya juga jadi rajin nerapin posisi KCP selama 10-15 menit setiap abis shalat ataupun saat ada waktu luang. Tak henti-hentinya saya berdoa. Saya juga selalu mengajak si boy untuk ngobrol. Untuk ngajak dia kerja sama sama saya buat muter lagi, dengan posisi kepala di bawah. Pokoknya semua saya lakuin deh, yang terbaik untuk dia dan saya juga tentunya.

Dua minggu kemudian saya kembali ke doketr. Saat di periksa, Alhamdulillah!!!! Si boy sudah balik lagi ke posisi yang bagus. Dokter pun menyuruh saya menghentikan KCP, biar si boy ga balik lagi. Alhamdulillah!! Alhamdulillah!! Terima kasih ya Allah. Tak terbayang rasa bersyukurnya saya saat itu. Dan pulang dari dokter pun saya belikan burger untuk si boy, sesuai janji saya saat itu sama dia,
“Kalau kamu pinter, nanti mama belikan hamburger pulang dari doker ya. Tapi janji harus jadi anak pinter dulu” saya pun menepati janji saya. Alhamdulillah ….

Flek ??? Ah… Tidaaaaaak!!!

Setelah mengalami hasil pemeriksaan yang baik-baik aja selama ini, suatu hari saya sempat juga kena giliran ngalamin yang namanya flek. Kaget?? Pasti !! Hal tersebut dikarenakan saya yang kecapean abis roadshow kondangan ke tiga tempat dalam satu hari. Ditambah make sepatu ber-hak, meski haknya ga tinggi-tinggi banget ko, cuma sekitar 3 cm.

Kronologis kejadiannya, waktu itu hari Senin. Selepas mengajar Mathematics di kelas, perasaan saya ga enak. Kayaknya celana dalam saya terasa lembab banget. Akhirnya saya memutuskan untuk ke kamar mandi. Waktu itu saya mikirnya hanya keputihan biasa aja. Masuk kamar mandi dan tadaaaaa!!! Kagetnya bukan main saat saya mendapati flek di celana dalam saya! Spontan aja saya teriak di dalam kamar mandi (untung aja waktu itu ga ada murid yang ada di dalam kamar mandi).

Buru-buru saya keluar kamar mandi. Saya inget banget waktu itu salah seorang rekan guru, Ms. Resmi menanyakan kepada saya, “Aya naon, Des??” Saya pun sedkit berbohong dengan mengatakan “Ga, kok Ms, ga ada apa-apa”. Langsung saya telpon suami saya, yang memang kebetulan hari itu sedang libur. Singkat cerita saya di jemput dari sekolah, pulang duluan, dan langsung dibawa ke rumah. Awalnya saya pengen buru-buru ke dokter saat itu juga. Karena saya takut ada apa-apa sama kandungan saya ini. Tapi dokter yang biasa nanganin saya prakteknya malam hari, jadilah saya harus menunggu sampai malam tiba.

Saat malam hari, setelah diperiksa USG dan periksa dalam yang rasanya ngilu banget itu, benar ternyata saya kecapean. Bayi saya Alhamdulillah ga kenapa-kenapa. Tapi memang diwanti-wanti banget untuk ga kecapean lagi.

Pesan yang saya ambil dari kejadian ini adalah: meskipun kita –si ibu- merasa baik-baik aja tapi belum tentu si janin juga ngerasain hal yang sama. Biar gimana pun kita ga boleh egois, selalu berbuat terbaik untuk janin kita tercinta. Banyak istirahat dan jangan memaksakan diri. Jangan sampai kita menyesal..