Kamis, 15 Juli 2021

Menyapih di 31 Bulan


Proses menyapih pada adek tidak semudah proses menyapih dua sebelumnya. Ada perasaan sedih yang menyelimuti, sehingga prosesnya tidak dimulai-mulai. Padahal

 

Saya sudah merasa lelah secara fisik menjalaninya. Adek termasuk anak yang tidak bisa tidur tanpa menetek. Selain tidur juga dia masih ngemil nen, padahal makannya normal, porsi lengkap. Kalau nangis, marah, kesal, pasti nyarinya nen.  Selama tidur malam pun dia bisa 3-4 kali terbangun minta nen, sehingga saya merasa lelah setiap bangun pagi akibat tidur yang tidak nyenyak. Ada hari-hari dimana saya merasa amat lelah, ingin tidur lama tanpa disela nen, tapi tidak pernah terjadi. Setiap ingin memulai proses menyapih tiba-tiba rasa sedih datang, mengingat bahwa bisa jadi ini adalah momen menyusui saya yang terakhir (amin). Ah, i will lost this super power ....

Sampai akhirnya saya sadar Tia sudah memasuki usia 2 tahun 7 bu
lan bulan Juni, saya bulatkan tekad untuk menyapihnya.  Saya juga perlu untuk mengurus diri saya, memberikan hak tidur yang baik dan juga melatih kemandirian Tia, begitu pikir saya. Beberapa kali saya coba menerapkan cara menyapih kedua kakaknya; saya memisahkan diri di kamar lain, dengan dia dijaga oleh papanya, tapi tidak berhasil. Mungkin beban kerja yang sudah berlipat-lipat yaa, jadi papa sulit untuk ngerjain hal-hal kayak gini lagi.

Ok, saya bersiap melakukan proses menyapih ini sendiri, eh, berdua deh dengan Tia. Pertama yang terpikir adalah saya harus mengkomunikasikan niat menyapih ini kepada Tia. Setiap malam saya bilang, bahwa proses menyusu ini sebaiknya di stop karena mama sudah merasa tidak nyaman, tidak bisa istirahat dengan baik, padahal mama butuh itu untuk bisa sehat mengurus kalian semua setiap hari. Afirmasi dilanjut dengan menyampaikan  kalau nen itu untuk adek bayi yang belum bisa makan, kalau Tia bobonya cap-cap (usap-usap) saja.  Saya lakukan kira- kira seminggu lebih. Supaya afirmasi lebih kuat, saya coba buat gambar seadanya, hehehe, dan coba minta dia untuk mengucapkan kata-kata itu setiap hari, begini rekamannya.

 


 


 

Alhamdulillah, sekitar 4 atau 5 hari dia mempraktekan afirmasi ini, Tia mau untuk tidur di cap-cap. Rasanya lega, legaaa sekali. Biasanya saat tidur siang saya tidak bisa ikut tidur karena bolak balik terbangun, tapi saat itu surprisingly, saya bisa tidur siang dengan lelap begitupun Tia. Proses ini sangat membantu saya saat ternyata beberapa hari setelahnya, kami harus ke Bandung karena Kakek meninggal. Tia tidak minta nen lagi di perjalanan dan bisa tidur sendiri.

Saat malam hari  Tia bisa tidur nyenyak karena tidak merasa harus terbangun untuk menetek. Saya? Jangan ditanya, rasanya saya senang banget bisa tidur sepulas itu. Bahkan sampai timbangan naik 2 kilo, hehehe. 

Setiap keluarga memiliki berbeda alasan terkait waktu menyapih, ada yang memang merasa ingin menyudahi proses menyusui seperti saya ini, ada juga yang mungkin alasan kesehatan (harus operasi, dll) namun yang pasti menurut saya kedua pihak (ibu dan anak)  harus sepakat . Jangan lakukan dengan mendadak, juga karena bisa menyebabkan payudara bengkak, mastitis yang rasanya tidak nyaman bagi Ibu. Konsistensi juga penting. Bila sudah diputuskan untuk menyapih, sama-sama siap, konsistenlah dengan keputusan itu. Jangan sekarang sapih, besok ditawarkan lagi untuk nen, lusanya sama sekali ga boleh nen, nanti anak jadi bingung. Bisa juga Ibu coba dengan mengurangi frekuensi nen, misal “Adek nen pas malam saja ya. Selain itu tidak nen” Lakukan konsisten, langkah ini juga bagus untuk menurunkan  produksi ASI  secara perlahan dan menghindari terjadinya bengkak di payudara Ibu.

Alhamdulillah, sejak Juni saya tidak mengalami payudara bengkak, pernah agak bengkak di hari pertama dan kedua kedua menyapih. Saya keluarkan sedikit sambi mandi dan sambil dipijat. Setelahnya tidak pernah lagi.

Tiga kali saya menyusui penuh 2 tahun lebih. Banyak cerita dan pengalaman selama menyusui. Lecet sampai puting kebelah, bengkak, kejar-kejaran untuk stok ASI perah saat kerja, ga bisa tidur nyenyak, galaktokel, sampai harus operasi FAM di payudara sebelah kanan.  Apapun itu saya bersyukur Allah ijinkan saya menyusui anak-anak dalam keadaan sehat.  Terima kasih juga payudara sudah melakukan tugasnya dengan baik dan terima kasih aku karena sudah menyusui dengan keras kepala, melalui malam-malam yg sepi sendirian tak jarang menangis sesenggukan. 

Alhamdulillah ...

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar