Senin, 11 Mei 2020

Operasi Hernia Tia (part 1)

Jumat 31 Mei 2019 dalam suasana Ramadhan jelang lebaran, adek rewel. Gerak sedikit nangis. Digendong nangis. Ga biasanya. Saya curiga sama pusernya yang memang sebulan kebelakang tiba2 berjendol seperti balon. Baca2 di google katanya gapapa. Tapi kok ga ada perubahan.
Saya coba pegang pusernya dan dia nangiis kejer. Ya Allah ada apa ini. Saya dan suami langsung ke RS Permata Depok. Antrian masih panjaaang sekali dan di antara antrian itu adek menangis kesakitan. Haduh rasanya pilu banget. Tapi saya ga bisa berbuat apa2.


Tiga jam setelah mengantri akhirnya dipanggil. Bertemu dokter Asti, saat memeriksa air mukanya langsung berubah. Dia bilang : “saya telpon teman saya dokter bedah anak, terbaik, sekarang juga kamu langsung ke Hermina Depok”. Deg! Saya lemes banget. Mau pingsan ga karuan rasanya. Sementara adek nangis ga berhenti.

Pulang dari RS Permata saya menyiapkan kakak2 untuk menginap di Mampang rumah Mertua juga menyiapkan keperluan adek dan saya menginap. Kemungkinan besar pasti adek di operasi. Setelah selesai segala persiapan langsung suami pesan taksi dan menuju ke Hermina Depok.
Adek dirujuk ke IGD. Sepanjang itu adek menangis kesakitan. Kadang saking capeknya dia tertidur. Tapi saat bangun dia kesakitan lagi begitu terus. Kami sampai di Hermina sekitar jam 4 namun dokter bedah anak, dr. Catur Suzantra, baru akan sampai jam 8 malam, karena beliau berangkat dari RSPAD.

menunggu di UGD Hermina Depok
Singkat cerita, malam itu dr Catur tiba. Melihat sekilas, kata dia operasi sekitar jam 9 ya Bu. Dia minta hasil tes darah adek. Saat dicek leukosit tinggi menandakan ada bakteri. Konsul ke dr anak, beliau bilang : kalau ini operasi direncanakan saya ga ijinkan tapi karena ini menyelamatkan nyawa, ya sudah lakukan asal tau resikonya, sudah siap kantong darah? Anastesi gmn? Jangan tanya perasaan saya. HANCUR SEHANCUR2 NYA. Saya takut sekali. Rasanya saya mau minta dibangunkan oleh suami, berharap ini semua mimpi saja.

Tak perlu menunggu lama, Adek naik ke kamar operasi di lantai dua. Digantikan bajunya dengan baju operasi. Digendong suster dan berpisah dengan saya. Hanya doa yang bisa saya panjatkan, ya Allah ijinkan aku bertemu dengannya kembali ya Allah dalam keadaan sehat. Semuanya terasa begitu cepat lebih cepat daripada jentikan jari. Saya keluar ruangan ganti itu, bertemu suami dan menangis.
Suami bertanya : apa sih yang kamu takutkan? Saya diam tidak menjawab. dia bertanya lagi : kamu takut adek meninggal? Ya kalau memang waktunya meninggal ya meninggal. Sudah umurnya hanya segitu katanya. Dalam hati saya mengiyak perkataannya dan ya tangis saya pecah lagi. Lebih keras

Tidak ada komentar:

Posting Komentar